Rabu, 21 Oktober 2009

Tok, tok, tok...
Seorang dari padang sunyi bertandang ke rumahmu yang berwarna pelangi.
Dibawakannya setumpuk jerami dan sekerat lumut alas pertapa.
Ia telah menggauli banyak purnama dalam igauan yang menggema di gua-gua berstupa ~tapi tau kau ada cinta, maka ia menyeret hati memarnya untuk kau baluri dengan ludahmu yang suci~.
Pada jerami dan lumut itu, ada mimpi yang hampir basi ~cuma ingin kau panaskan lagi dengan apimu yang biru~.
Arrrggghhh...
Lupakan saja pribumi ini...
Kau sedang di singgasana, dan ocehanku cukup sama dengan jalan panjang yang berlubang.
Kita tak ada jembatan.
Paling lepas, aku akan terjun bebas.
Kau mengerling, ikhlas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar