Gosh! How poor I am... Lagi ngetik tugas kuliah di komputer, tiba-tiba listrik padam. Whuuuaaaahhhh.... I didn't save the file yet! Tambah whuuuuuuuuuuuaaaaaaaaahhhhhhhh lagi karena aku ga punya copyannya di laptop. Euuwww..., malez banget kalau harus ngetik lagi dari awal. Hiks,hiks,hiks... Bakal begadang lagi nih! Aduh, maafkan aku tubuhku tercinta... Aku tahu kamu dah perlu di-charge dengan tidur malam yang panjang. Apa daya... Oh, my pretty body (....???!!), be stronger for one more night, yaaachh....?! I swear, malam minggu ntar, kita bakal berhibernasi (haduh, malam mingguan berhibernasi??!!).
Thanks Allah, batere hape-ku dalam keadaan full. Jadinya masih bisa nge-blog dan facebook-an bentar...
Bip,bip,bip... Alarm di tubuh dah bunyi nih, ngingetin aku untuk segera berangkat ke peraduan sebagai persiapan begadang.
Mmm... Habis posting-in tulisan ini, aku mau asyikin mimpi (ka Yulika Satria Daya, ku pinjem kata-katanya kamu yaaach...) di tidur yang singkat. Mudah2an mimpinya ketemu... ^_^
Rabu, 21 Oktober 2009
Kepada Pagi
Oh... Pagi.
Andai siang hanya denganmu,
tak perlu matahari mendaki langit sampai puncaknya.
Tak perlu matari berlelah-lelah untuk terik yang aku benci.
Tapi Tuhan lebih tau apa perluku, tak seperti aku tau apa mauku.
Toh nanti dibawaNya senja,
cantik jua...
Andai siang hanya denganmu,
tak perlu matahari mendaki langit sampai puncaknya.
Tak perlu matari berlelah-lelah untuk terik yang aku benci.
Tapi Tuhan lebih tau apa perluku, tak seperti aku tau apa mauku.
Toh nanti dibawaNya senja,
cantik jua...
Tok, tok, tok...
Seorang dari padang sunyi bertandang ke rumahmu yang berwarna pelangi.
Dibawakannya setumpuk jerami dan sekerat lumut alas pertapa.
Ia telah menggauli banyak purnama dalam igauan yang menggema di gua-gua berstupa ~tapi tau kau ada cinta, maka ia menyeret hati memarnya untuk kau baluri dengan ludahmu yang suci~.
Pada jerami dan lumut itu, ada mimpi yang hampir basi ~cuma ingin kau panaskan lagi dengan apimu yang biru~.
Arrrggghhh...
Lupakan saja pribumi ini...
Kau sedang di singgasana, dan ocehanku cukup sama dengan jalan panjang yang berlubang.
Kita tak ada jembatan.
Paling lepas, aku akan terjun bebas.
Kau mengerling, ikhlas.
Seorang dari padang sunyi bertandang ke rumahmu yang berwarna pelangi.
Dibawakannya setumpuk jerami dan sekerat lumut alas pertapa.
Ia telah menggauli banyak purnama dalam igauan yang menggema di gua-gua berstupa ~tapi tau kau ada cinta, maka ia menyeret hati memarnya untuk kau baluri dengan ludahmu yang suci~.
Pada jerami dan lumut itu, ada mimpi yang hampir basi ~cuma ingin kau panaskan lagi dengan apimu yang biru~.
Arrrggghhh...
Lupakan saja pribumi ini...
Kau sedang di singgasana, dan ocehanku cukup sama dengan jalan panjang yang berlubang.
Kita tak ada jembatan.
Paling lepas, aku akan terjun bebas.
Kau mengerling, ikhlas.
Jumat, 16 Oktober 2009
21
Ultaaah....!!!
21!!! Fffhhh...
Duuuluuuu... Waktu masih ingusan, pas seragamku masih putih merah, rasanya ingiiin sekali tau bagaimana rasanya menjadi dewasa dan melakukan semuanya sendiri... Penasaran bagaimana seorang wanita memiliki pinggul dan payudara, bagaimana rasanya berhenti bermain petak umpet di pabrik beras, bagaimana rasanya membeli baju sendiri dan menyimpan uang kembalian untuk membeli banyak novel di toko buku, bagaimana rasanya jatuh cinta... Cuiiih...Apa aku telah memberikan jawaban yang memuaskan bagi jiwa kanak-kanakku?
Mmmm... Sepertinya tidak. Karena ternyata hidup begitu rumit dan tidak memberikan rumus yang terpercaya bahkan untuk menghitung kemungkinan dalam pembentukan karakter diri sendiri di masa depan....
Menjadi dewasa ternyata tidak cukup hanya dengan pertambahan usia. Tidak cukup hanya dengan menjadi 17 tahun atau 21 tahun. Tidak cukup hanya dengan memiliki pinggul dan payudara. Tidak dapat hanya dengan memutuskan untuk berhenti bermain petak umpet di pabrik beras. Tidak bisa hanya dengan sebentuk keberanian untuk membeli baju sendiri atau menyimpan kembalian uangnya untuk membeli setumpuk novel pilihan. Tidak juga dengan merasakan jatuh cinta. Sumpah!
21!!! Fffhhh...
Duuuluuuu... Waktu masih ingusan, pas seragamku masih putih merah, rasanya ingiiin sekali tau bagaimana rasanya menjadi dewasa dan melakukan semuanya sendiri... Penasaran bagaimana seorang wanita memiliki pinggul dan payudara, bagaimana rasanya berhenti bermain petak umpet di pabrik beras, bagaimana rasanya membeli baju sendiri dan menyimpan uang kembalian untuk membeli banyak novel di toko buku, bagaimana rasanya jatuh cinta... Cuiiih...Apa aku telah memberikan jawaban yang memuaskan bagi jiwa kanak-kanakku?
Mmmm... Sepertinya tidak. Karena ternyata hidup begitu rumit dan tidak memberikan rumus yang terpercaya bahkan untuk menghitung kemungkinan dalam pembentukan karakter diri sendiri di masa depan....
Menjadi dewasa ternyata tidak cukup hanya dengan pertambahan usia. Tidak cukup hanya dengan menjadi 17 tahun atau 21 tahun. Tidak cukup hanya dengan memiliki pinggul dan payudara. Tidak dapat hanya dengan memutuskan untuk berhenti bermain petak umpet di pabrik beras. Tidak bisa hanya dengan sebentuk keberanian untuk membeli baju sendiri atau menyimpan kembalian uangnya untuk membeli setumpuk novel pilihan. Tidak juga dengan merasakan jatuh cinta. Sumpah!
Langganan:
Postingan (Atom)